Ajang Central Java Archibition 1.0 menghadirkan sebuah buku bertajuk ImaJIWAktu, yang merangkum perjalanan dan karya 10 arsitek asal Solo. Buku ini menyoroti bagaimana masing-masing arsitek menghadirkan ruang publik yang punya karakter dan nilai tersendiri. Para arsitek yang diangkat antara lain Astri Resmi Enggarsiwi, Yuli Kristanto, Vanni Yuana, Suhailah Al Huda, Teguh Kurniawan, Metta Kaliyana, Ali Budhi Jatmiko, Dian Ariffianto Budi Susilo, Yoas Wicaksana Dharma Setiawan, dan Arie Wibowo Wiwien Prasasti Barada.
Astri Resmi Enggarsiwi tampil dengan tema “Kala Imaji dan Jiwa Berjumpa”. Ia adalah pemilik Astri Architect and Vastu Design di kawasan Penumping, Laweyan, Solo. Salah satu karyanya yang dikenal adalah klinik ibu dan anak Be Mom. Baginya, peran arsitek idealnya adalah menjembatani visi klien dengan hasil desain yang selaras.
Yuli Kristanto, arsitek asal Solo yang lahir pada 1976, membawa gagasan “Tata Lego dalam Goresan Karya”. Melalui Conarch Studio di Mojosongo, ia dikenal lewat karyanya Real Life Studio Solo, sebuah bangunan rumah kantor yang menggabungkan konsep belajar, bekerja, dan bersantai dalam satu ruang. Menurutnya, permainan komposisi antar-massa bangunan yang saling mengunci bisa memberi makna tersendiri pada sebuah karya arsitektur.
Sementara itu, Vanni Yuana mengusung ide “Kinestik Ruang dari Permainan Modern”, dengan salah satu karya menonjolnya berupa coffee shop Cold N’ Brew yang berlokasi tak jauh dari Stasiun Solo Balapan. Ia percaya lingkungan pertemanan yang imajinatif turut memacu daya kreatif seseorang.
Kisah dan Semangat di Balik Karya Para Arsitek
Suhailah Al Huda membawa semangat “Asa Dari Desa” lewat karyanya, MTA Tahfidz Center yang berdiri di lereng Gunung Lawu, Karangpandan, Karanganyar. Ia menaungi Studio Semai Arsitek yang berbasis di Mojogedang.
Duo Teguh Kurniawan dan Metta Kaliyana, pemilik TM Studio di Solo Baru, mengangkat tema “Tenun Sinergi Dua Karsa”. Salah satu hasil karya mereka adalah DJV House, rumah tinggal bernuansa mewah namun tetap hangat di Sleman, DIY. Keduanya memandang rumah, sederhana atau mewah, sebagai ruang untuk berkumpul bersama keluarga secara apa adanya.
Ali Budi Jatmiko, dengan tema “Rima dan Kejujuran Rasa”, adalah pemilik Studio Wuconcept Architects di Gilingan, Solo, dengan salah satu proyeknya adalah EJ House di Cluster Parahyangan.
Dian Ariffianto Budi Susilo, lulusan Teknik Arsitektur UNS dan pemilik Studio Deesignhandmade, mengangkat gagasan “Elok Budaya Buah Karya” lewat karya Rumah YW di Bungaraya, Sukoharjo. Ia menekankan pentingnya memahami nilai lokal sebelum merancang sebuah bangunan.
Yoas Wicaksono Dharma Setiawan, pemilik JWRA Studio, menghadirkan tema “Garis Hujan Ide Hunian” lewat karyanya The Laweyan. Ia mengibaratkan kehidupan seperti kepingan puzzle yang pada akhirnya tersusun sempurna menuju satu tujuan.
Arie Wibowo, pemilik Studio AIR, mengusung “Menghidupkan Nafas Alam” dengan karya Rumah SAM Ratulangi #03. Ia menilai arsitek sebaiknya turut mengedukasi klien untuk memilih desain yang ramah lingkungan.
Terakhir, Wiwien Prasasti Barada, akrab disapa Pras, pemilik Studio XT di Colomadu, membawa tema “Kala Waktu Menjadi Penentu”. Menurutnya, nilai sebuah bangunan terletak pada keindahan fungsi dan isinya, bukan sekadar tampilan luar.
